27 April 2016

Penantian 100 Bulan

Matanya menatap dalam mataku. Tatapan tajam penuh cinta itu berhasil menggetarkan hati. Berguncang dan menumbuhkan bunga-bunga cinta, hasil dari benih yang telah ditanamkan dalam hati di setiap tatapannya. Hingga aku merindukan tatapan itu. Bola mata yang terus mengawasiku.
Bunga ini terus tumbuh mekar didalam dada, di hati ku tepatnya. Merah merona setiap aku berada di dekatmu. Sayang, dia hanya berdiam diri. Tak berkata sekatapun. Dia bagai kumbang yang diam diatas bunga, memandangiku membuatku teduh. Pandangan yang tak biasa. Yang ku yakin berarti cinta.
Aku dan dia yang selalu beradu nilai, mencuri perhatian guru, yang malah mencuri hati. Aku tersenyum begitu dia mendapat nilai sempurna. Dan aku bahagia begitu tau nilaiku pun sempurna. Aku kesal begitu tau nilauku berada di bawahnya. Namun hati kecilku memujinya.
Tak kusangka, dia berkata cinta. Tatapan yang kuartikan cinta itu tak salah. Tatapan itu berkata jujur. Sayang, dia hanya berani berkata dan tak berani memiliku. Dia lebih takut akan nilai menurun dengan adanya hubungan kita. Menurutku, dengan siksaan saling mencintai namun tak memilikilah yang akan menurunkan semangat belajar. Ataukah ini cara untuk menenggelamkan musuh? Sungguh licik. Dan semoga dugaanku ini salah.
Tatapan itu terus mengawasiku. Terkadang, senyuman manisnya ikut, yang membuat lubang dihatiku. Bunga cintaku layu, tak lagi dipupuki dengan cinta. Hanya kata-kata manis yang terucap dari bibirnya. Janji-janji masa depan yang tak ku tahu dengan siapa masa depan itu akan ku jalani. Khayalan-khayalan gila tentang cinta kita. Cinta tanpa memiliki yang lebih membuat ku gila.
Usai sudah peraduan kita. Tak kan lagi kita saling beradu nilai dan mencuri perhatian guru. Dan tak akan lagi ku di awasi oleh kedua bola matanya. Dia pergi dan cinta kita hanyalah angan-angan anak remaja yang tidak mengenal arti sepenuhnya cinta.
Aku benci melupakan. Melupakan malah semakin mengingatkan. Aku ingat akan ucapannya. Dia yang meyakinkan ku bahwa kita akan kembali bertemu. Hingga aku ingin tuhan memang menakdirkan kita untuk bersatu. Aku mau kamu takdirku.
8 tahun aku hidup bersama bayangnya. Menjalani hari dengan harapan kosong. Kau bilang kita akan bertemu. Kapan? Sudah reuni 2 kali, tapi dirinya tak kunjung terlihat. Aku sengaja datang hanya untuk bertemu. Menyatukan cinta kita yang telah kau tunda untuk bersatu.
"Tuhan memang menakdirkan kita bersatu" Aku menoleh ke sumber suara. Lelaki tampan dengan jas hitam dan tatapan yang tak pernah bisa kulupakan, aku merindukannya.
"Kamu?"
"Aku tak mungkin mengingkari janjiku." Aku tersenyum mendengar ucapannya.
"Apa kabar?" Tanyanya kemudian.
"Seperti yang kau lihat sekarang." Jawabku dengan senyuman manis.
"Kau mau tahu kabarku?" Aku menjawabnya dengan anggukan kecil.
"Kabarku 96bulan yang lalu buruk. Aku menjalani hari dengan semangat bayangan dirimu. Hingga 4bulan yang lalu, semangatku semakin kuat karena aku yakin kita akan bertemu kembali. Dan hari ini, kabar ku tak pernah sebaik ini."
"Aku kira kamu lupa" air mata mulai membendung.
"Semakin aku mencoba untuk melupakanmu, semakin aku mengingatmu. Dan kubiarkan memori otakku untuk terus mengingatmu. Ku jadikan itu semangatku. Dan sekarang, aku tidak mau menunda lagi."
Dia tersenyum manis dan melangkah mendekatiku. Hanya selangkah jarak diantara kita kini. Aku bisa mencium bau harumnya. Aku lihat diriku dalam bola matanya. Cantik.
"Aku cinta kamu"
"Aku pernah dengar kata itu"
"Aku ingin kita bersatu, aku tak mau menundanya lagi" aku terkejut mendengarnya. Keramaian berubah menjadi sunyi dan sepi. Kini semua sorot mata tertuju pada ku dan lelaki yang telah kutunggu sejak 100bulan yang lalu.
"Maukah kau menjadi milikku, dan aku bersedia menjadi milikmu"
Aku tak sanggup berkata. Bibirku tertutup rapat. Air mata bahagiaku mengalir, membasahi bunga layu didalam hati. Kini bunga itu mekar kembali.
"Aku mau" kataku setelah susah payah membuka bibir ini.
Bunga yang sempat layu selama 100bulan, kini telah mekar kembali. Dan takkan pernah kembali layu karena akan selalu dipupuki oleh cinta.

17 April 2016

Cinta Sendirian

Suka sama orang yang gak tau kalo kita suka sama dia itu kayak bertepuk sebelah tangan. Kita cuman bisa meratiin dia dari jauh. Diem-diem liatin dia sampe hafal tingkah dia. Melakukan berbagai cara supaya bisa ada dideket dia. Tapi gugup saat berdekatan. Jantung rasanya mau copot. Dan bener2 gak enak ada diposisi itu.
Dulu, gue murid baru di SMA Negeri Jakarta. Hari pertama gue jadi murid baru, biasa-biasa aja. Sampe guru bahasa inggris nyuruh gue maju ke depan kelas buat kenalin diri gue. Untungnya, gue agak sedikit bisa ngomong pake bahasa inggris. Jadi, gak keliatan bodoh-bodoh amatlah sebagai murid baru 😀
Dan, ada yang minta gue sebutin no handphone gue. Okey, gue sebutin pake bahasa inggris tapi tiba-tiba.... gue gagu. Gue gugup. Gue bisu. Gak bisu beneran, cuman kayak aja. Soalnya gue susah banget gitu mau ngomong. Kenapa? Ada sepasang mata yang serius banget meratiin gue. Gue gak tau dia siapa, nama dia siapa karena gue belom kenalan sama semua temen2 kelas gue kecuali ani, ana, anu, dan ina (nama samaran). Itu cowok mungkin emang gitu kali ya? Emang serius dan fokus kalo lagi sama sesuatu. Gue coba buat kembali fokus sebutin no hp gue, tapi udah terlanjur buyar. Gue sebutinnya acak adul. Gak tau dah itu nomer siapa yang gue sebutin.
Belum lama gue sekolah, kondisi gue drop. Gak tau kenapa, badan gue rontok. Dikelas gue ngerasa dingin banget. Tapi temen gue bilang kalo badan gue itu panas. Gue udah pake 2 jaket temen gue. Tapi tetep aja berasa dingin. Akhirnya gue pulang dan langsung istirahat.
Malemnya, badan gue makin panas tinggi. Nenek panik dan bawa gue ke dokter. Setelah cek darah dan ini itu, dokter bilang kalo gue kena gejala types. Gue harus istirahat full seenggaknya 1minggu.
Hari senin, gue udah ngerasa klo badan gue udah enakan. Padahal, belum 1minggu. Soalnya gue bete kelamaan dirumah. Kalo jalan2 sih enak. Ini mahkan cuman tiduran aja. Makan juga gak nafsu. Mau kemana2, engga bisa. Ya mending ke sekolah sekalian.
"Bel, kemaren ditanyain tuh sama Romeo (nama disamarin). Dicariin tuh kemaren. Katanya, dia suka sama lo"
Thats words! Gue gak tau harus ngejawab apa itu omongan temen gue. Gue juga gak tau dia bohong apa emang bener. Gue juga gak tau, sekarang muka gue kayak gimana. Gue pasang aja tampang muka bingung gimana gitu. Dan untungnya, temen gue ngajak ke toilet.
"Lo denger gak tadi si ketua kelas ngomong apa? Romeo suka sama gue? Dia nyariin gue? Itu beneran? Beneran kemaren dia nyariin gue?" Gue panik. Gue seneng. Gue gak percaya. Gue berharap omongan si ketua kelas itu bener.
"Gak tau juga, sih. Gue kan gak deket sama dia. Jarang juga ngobrol sama dia."
"Gue berharap banget itu beneran." 
"Lo suka sama dia?" Gue cuman senyum malu jawab pertanyaan temen baik gue itu.
Romeo cowok yang aneh. Dia suka gambar, suka IT, gamers, dan pelit. Tapi, dia gak pelit sama gue dan Nadya (nama disamarin). Temen gue yang pinter dan woles banget. Gue engga tau deh kenapa si Romeo baik sama kita. Engga pelit soal makanan ataupun contekan. Apa dia suka sama salah satu diantara kita? Atau mungkin karena dia cuman anggep kita temen baik? Makanya dia baik sama kita. Semoga aja dia suka sama gue.
Gue sering ngelakuin berbagai cara supaya bisa dapet moment bareng Romeo. Pas upacara, dasi gue lepas dan gue emang gak bisa pasang dasi. Pas banget gue liat Romeo lagi masang dasinya. Gue samperin, dan minta tolong buat masangin dasi gue. Yes! Dia mau. Yuhuuu. Gue bisa liat dia jelas. Karena deket, tiap senti mukanya bisa gue cermatin. Lengkungannya, bulu matanya. Senyumnya, padahal dia lagi gak senyum 😁 mukanya lagi nahan kena silaunya matahari.
Setahun sudah gue mendem rasa. Bener-bener engga ada yang tau kalo gue suka sama Romeo. Gue engga mau sampe ada satu orangpun yang tau. Gue engga mau Romeo jadi illfell ataupun jaga jarak karena tau kalo gue suka dia. Diam adalah emas 😊
Allah emang sayang banget sama gue. Gue, sekelas lagi sama Romeo. Gue berharap, ada maksud dari semua ini.
Posisi duduk gue berubah 360 derajat. Yang tadinya dipaling depan, sekarang dipaling belakang dan mojok. Engga tau kenapa suka aja sekarang mojok, nyender gitu. Dan, kadang si Romeo duduk barisan samping gue. Kadang juga duduk didepan gue. Bener deh, sekolah jadi semangat!
"Eh ketua kelas, lo duduk sama Nadya?"
Gue selalu duduk disebelah Nadya, dan sekarang posisi gue diambil alih hari ini sama si ketua kelas.
"Iya. Lo duduk dibelakang aja, gih."
"Duduk dipaling belakang, sendirian. Okelah."
Tiba-tiba, ada tas di kursi sebelah gue. Gue tau siapa yang punya tas itu. Gue kenal banget. Itu tasnya Romeo. Gila! Ini bener-bener gila. Lo tau gak gimana rasanya bisa duduk sebelahan sama orang yang lo suka seharian? Lo tau rasanya? Jantung mau copot! Gue gak bisa berenti buat senyum. Gue bahagia banget. Skenario yang pas dan menguntungkan.
"Rom, gue lagi males banget nih ngerjain. Gue nyontek dong." Kata gue pada Romeo. Tapi, romeo gak jawab apa-apa. Dia tetep aja fokus ngerjain tugas bahasa inggrisnya.
"Rome.."
Gue tau, Romeo itu orangnya keras kepala. Dia engga bakalan jawab gue kalo dia emang engga mau jawab. Jadi, gue berenti ngerengek minta contekan dan ngerjain tugas dengan males-malesan. Tinggal beberapa soal lagi yang belum kejawab. Sebenernya sih ada jawabannya di materi, tapi gue males buka-buka materi. Bener-bener lagi males buat ngerjain soal. Kenapa? Gue udah capek gegara jantung gue yang lari2an karena tau duduk sebelahan sama Romeo.
"Nih!"
Dia kasih buku tugasnya ke gue, dan pergi gitu aja. Gue agak bingung sih, tapi karena jam pelajaran bahasa inggris udah mau abis, gue buru-buru ngerjain tugas.
UN tinggal beberapa bulan lagi. TryOut juga udah yang kedua kalinya. Bentar lagi, gue bakalan ninggalin sekolah ini. Juga, Romeo yang sampe sekarang engga tau gimana perasaan gue ke dia. Dan gue juga engga tau gimana perasaan dia ke gue. Sikap suka berubah. Dia kadang manis, kadang juga nyebelin. Jahil! Dingin banget, tapi adem kalo udah ngobrol sama dia. Rasanya, engga mau ninggalin ini semua gitu aja.
"Bel, gue ngantuk nih." Bisik Romeo. Kali ini, gue duduk sebelahan lagi sama Romeo.
"Terus?"
"Cubitin tangan gue dong." Gue cubit kecil lengan dia.
"Ih, kayak gini nih!"
"Aw!!!" Gue ngejerit kecil kesakitan karena dicubit sama Romeo.
"Sakit tauuuu"
"Yang kayak gitu nyubitnya, biar ngantuk gue ilang."
"Iya iya"
Gue pun nyubitin lagi tangan dia sekenceng-kencengnya. Tapi gagal. Emang kulit dia yang ketebelan, atau gue gak bisa nyubit? Cubitan gue gek kerasa di tangan dia. Katanya gak berasa sakit atau apa. Huh.
Jam pelajaran kosong emang jam favorit. Guru engga tau kemana, dan murid juga udah berkeliaran kemana-mana. Gue dan beberapa temen gue ngumpul ngomongin ini itu dan tiba-tiba aja ada tangan yang maenin rambut gue sambil nyender seenaknya banget gitu. Gue dongakin kepala dan gue liat Romeo. Orang yang lagi nyender sama gue dan maenin rambut gue itu Romeo. Gue gak bisa fokus. Gue coba buat tetep nyambung ke pembicaraan temen-temen gue. Tapi, gue gugup karena Romeo. Gue ngeblank. Gue gak fokus. Gue butuh aqua.
"Ciyeee Romeo" sorak salah satu temen gue.
"Ciye itu nyender-nyender sambil maenin rambutnya bella."
"Autuh, dari tadi enak banget nyeder nih orang." Respon gue sok cool.
Romeo gak jawab apa-apa. Dia cuman senyum sedikit terus balik nyender lagi dan tetep maenin rambut gue. Entah itu digulung-gulung, atau diapainlah gue gatau. Asal sama Romeo, Juliet mah gapapa 😁
UN udah tinggal sebentar lagi. Bimbel bimbel bimbel dan bimbel. Hari sabtu minggu yang jadwalnya tidurpun kita tetep harus ke sekolah buat belajar. Demi masa depan yang cerah.
Bimbel kali ini, gurunya dari tempat les ternama di jakarta. Asyik ngajarnya, gampang buat gue mahamin materi. Dan karena gue terlalu fokus ke materi, gue engga ngedengerin apa yang diomongin sama Romeo dan temen-temen yang duduk disamping gue. Gue cuman denger sekilas dan ada pembicaraan yang bikin gue terdiam. Mematung.
"Lo emangnya pacaran sama bella?" Tanya seorang temen gue. Fokus gue beralih dari guru bimbel. Gue penasaran sama apa yang bakal dijawab nantinya.
"Iya. Malahan kita udah tunangan. Yekan, bel?" Gue yang ngerasa namanya dipanggil langsung nengok dengan muka polos engga tau apa-apa. Gue bingung. Gue shock. Gue seneng. Gue engga tau harus kayak gimana.
Kata-kata dia itu engga bisa terlepas dari ingatan gue. Gue engga mungkin salah denger. Pendengaran gue masih jelas. Masih normal. Tapi, apa maksudnya dia ngomong gitu? Apa dia juga suka sama gue? Tapi, kenapa dia engga ngomong ke gue? Atau mungkin, dia engga mau pacaran? Dia mau fokus belajar dulu, sekolah dulu. Mungkin.
Tapi, itu semua sekarang cuman jadi kenangan manis putih abu-abu gue doang. Cerita masa SMA. Masa putih abu-abu yang berwarna merah merona. Dia sekarang menghilang. Gue engga tau lagi dia gimana kabarnya. Di sosial media juga jarang nongol. Dan kita udah engga pernah ketemu lagi.

16 April 2016

Gila uang, MONEY!

Satu benda yang sekarang sering diagungkan oleh banyak orang. Rela bangun sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari kembali terbenam. Rela pula hingga kembali kerumah saat larut. Terkadang sampai telat dan bahkan lupa makan. Dan kalian tau apa benda itu? Uang.
Ya, banyak orang bilang uang adalah segalanya untuk saat ini dan emang tidak bisa dipungkiri. Uang bukanlah segalanya, tetapi segalanya pakai uang.
Hidupku di masa lampau, sangatlah bahagia. Kenapa? Karena mama dan ayah memiliki banyak uang. Aku bisa membeli apa saja yang aku inginkan. Aku bisa melakukan apa saja, karena mama dan ayah punya uang. Merayakan pesta ulang tahun, makan di restoran, nonton bioskop, jalan-jalan setiap akhir pekan, TV kabel ternama, beli novel, dan baju bagus. Aku bisa mendapatkan apapun.
Dan kemudian masalah datang karena busuknya rayuan uang. Saat simpanan uang kami hampir habis, bisikan-bisikan maut terdengar gila. Seakan takut tidak bisa hidup bahagia, berbagai cara pun dilakukan agar hidup terpenuhi dan bahkan lebih dari apa yang dibutuhkan.
Cara yang salah menyisahkan noda, sedikit demi sedikit noda itu menyebar. Menimbulkan masalah dan harus diselesaikan dengan uang karena berawal dari uang. Aku suka dengan bunga-bunga, tapi tidak dengan uang yang berbunga.
Keluargaku berantakan. Keluargaku terpecah belah. Mama pergi. Ayah pergi. Aku disini. Adik-adikku disana. Kita semua berpisah. Kita yang dulu tinggal dibawah atap yang sama, kini berbeda ruang, berbeda rumah, berbeda kota. Kita terpisah oleh jarak dan waktu. Dan ini karena uang. Kita dulu senang karena uang dan kini sedih karena uang.
Roda kehidupan pasti berputar dan sayangnya, berhenti ditempat yang tidak kusukai. Aku kini berada dibawah. Terhimpit. Terinjak. Tergesek. Tertindih. Dan tak terlihat atau mungkin memang tak mau dilihat.
Kami yang dulu dicari orang untuk dimintai pertolongan masalah keuangan, kini tak mau lagi dicari orang karena hanya akan mendengar keluh kesah kami yang kekurangan uang setiap harinya.
Kami yang dulu disegani, didengarkan karena dianggap benar; mungkin karena punya uang jadi mereka mendekati kami dan membenarkan semua ucapan kami, kini seakan tak mau mendengar ucapan kami sekatapun.
Sebegitukah besarnya peranan uang dimuka bumi ini? Sebegitukah pentingnya uang dalam hidup ini? Apa hanya orang yang beruang yang dianggap? Apa kalian tidak ingat atau pura-pura lupa bahwa kami pun pernah beruang?
Ingin rasanya aku kembali ke masa lalu. Dimana aku akan memilih untuk tidak memiliki uang dari awalnya jika tau kalau sudah tak beruang akan sangat dikucilkan, dilupakan.
Diri yang telah terbiasa hidup mewah dan dilayani, kini harus mandiri dan dewasa secara paksa. Otakku harus berpikir ekstra. Nafsuku harus dijaga ketat. Dan hanya kalimat "aku sudah pernah seperti itu" yang aku ucapkan dalam hati, ketika iri melihat keluarga yang rukun sedang bercanda ria didalam mobil mewah mereka.
Waktu terus berputar hingga dewasa umurku pun datang. Aku harus berpikir untuk masa depanku dan masa sekarangku berserta keluargaku. Aku harus berpikir makan apa hari ini, besok, lusa dan hari berikutnya. Dan menjalaninya, tidak semudah saat aku berpikir.
Pergi pagi pulang malam untuk mencari dua gulung uang setiap bulannya yang akan habis dalam hitungan jam. Kemudian bergaul, mewarnai masa muda, dan belajar demi masa depan yang cerah. Kuharap, raga ini tak pernah lelah.
Kegilaan pada uang, sudah terselip didada. Ingin rasanya kubuang rasa itu, rasa ingin memiliki banyak uang. Namun, rasa itu kembali tinbul setiap orang kembali mengucilkan keluargaku. Menganggap kami selalu menyusahkan. Padahal kami pernah membantu dimasa dulu. Menganggap kami tak berguna, padahal kami pernah dielu-elukan dimasa dulu.
Aku hanya berharap semua kembali normal. Dengan adanya uang ataupun tidak adanya uang, aku ingin mereka tetap menganggap kami ada. Menganggap kami benar jika memang kami benar. Merangkul kami, bukan menganggap kami menyusahkan. Memeluk kami, bukan malah mendorong kami hingga semakin terpuruk dalam keadaan. Dan memang, duniaku telah dibuat gila karena uang.

Uang, aku membencimu. Dan aku memerlukanmu.

06 April 2016

Happy Birthday!!!

Holllaaaa
Selamat datang April. Bulannya gue sama adek gue niih. Kenapa? Soalnya bulan April adalah bulan lahirnya gue dan adek gue (Fariz) datang ke bumi 😀 kita lahir di tanggal yang sama tapi di tahun yang beda. Kok bisa? Tanya sama Allah gih. Gue aja kaget waktu itu nyokap ngasih gue kado gede banget. Gataunya anak bayi yang gendut and gemeziiinnn.
Btw, gue bukan lagi remaja umur belasan 😢 gue 20 tahun. 20 Tahun. 20 TAhun. 20 TAHun. 20 TAHUn. 20 TAHUN. Agak sedih sih ninggalin umur belasan. 20 itu umur matang bagi gue. Gak bisa lagi banyak main2. Harus banyak serius tapi tetep ada main2nya.
Dan guys, gue bahagia banget di hari ulang tahun gue kemaren partynya berkali-kali. Dari sebelum hari H, sampe pas hari H. Dan orang2 juga pada ngucapinnya ada yang kecepetan ada juga yang kelewatan. Kayaknya harinya guebtuh gak kelar2 gitu.
Tanggal 3nya aja udah banyak yang ngucapin gegara gue post di Path lg makan sama Fariz, mama, dan tante om gue di warung Abah Asep make caption "happy early birthday for me and my ndut bro". Mereka kira, gue lagi makan2 ngerayain hari ulang tahun. Ya emang sih.. tapi ulang tahunnya masih besok.
Surprise party yang udah biasa dilakuin dikeluarga besar gue itu tengah malem bawa kue trus nyanyi lagu happy birthday. Udah pasti banget itu. Siapa aja yang ulang tahun, pasti digituin. Sedikit bukti kasih sayang kita.
Dan yang gue nyangka banget itu adalah kuenya. Ada tulisan yang bikin gue agak kaget. Gue sih tau, orang itu mau kasih gue kejutan, mau kasih gue hadiah. Tapibgue gak nyangka aja klo itu kue dari dia. Orangnya mah jauh, tapi namanya nongol di kue 😁
Gue gak mau jelasin siapa dia. Yang pasti orangnya baik banget banget banget banget.
Hal selanjutnya yang bikin gue bahagia adalah dapet banyak kado dong.. yuhuuuuuuu lumayan lah dapet baju baru, dapet jilbab baru, dapet pakaian baru, dapet doa juga. Semoga aja doa2 mereka kekabulan ya Allah. Aamiin
Dan guys!! Gue baru kerja 6 bulan dkantor dan udah dapet surprise party!!!! Im so happy. Sampe bos juga ikut ngucapin, lho. Dan tau gak apa yang bos gue bilang??
She said, "ulang tahun yang keberapa bel? 16 tahunkah??"
😁 semuda itukah gue? Seimut itukah gue? Makasih banget bos pujiannya 😚

Sekali lagi, makasih buat Allah yang ngasih bella hidup dikelilingin sama orang2 yang sayang banget sama bella. Makasih buat mama yang udah telpon malem2 dan jadi orang pertama yang ngucapin (pas tgl 4), makasih buat ayah yang juga udah ngucapin dipagi buta, makasih sepupu gue yang cantik Cica n Winda, makasih buat keluarga besar, makasih buat temen2, makasih buat semuanya yang gak bisa gue sebutin satu satu. Love you all who love me or not 😚