16 April 2016

Gila uang, MONEY!

Satu benda yang sekarang sering diagungkan oleh banyak orang. Rela bangun sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari kembali terbenam. Rela pula hingga kembali kerumah saat larut. Terkadang sampai telat dan bahkan lupa makan. Dan kalian tau apa benda itu? Uang.
Ya, banyak orang bilang uang adalah segalanya untuk saat ini dan emang tidak bisa dipungkiri. Uang bukanlah segalanya, tetapi segalanya pakai uang.
Hidupku di masa lampau, sangatlah bahagia. Kenapa? Karena mama dan ayah memiliki banyak uang. Aku bisa membeli apa saja yang aku inginkan. Aku bisa melakukan apa saja, karena mama dan ayah punya uang. Merayakan pesta ulang tahun, makan di restoran, nonton bioskop, jalan-jalan setiap akhir pekan, TV kabel ternama, beli novel, dan baju bagus. Aku bisa mendapatkan apapun.
Dan kemudian masalah datang karena busuknya rayuan uang. Saat simpanan uang kami hampir habis, bisikan-bisikan maut terdengar gila. Seakan takut tidak bisa hidup bahagia, berbagai cara pun dilakukan agar hidup terpenuhi dan bahkan lebih dari apa yang dibutuhkan.
Cara yang salah menyisahkan noda, sedikit demi sedikit noda itu menyebar. Menimbulkan masalah dan harus diselesaikan dengan uang karena berawal dari uang. Aku suka dengan bunga-bunga, tapi tidak dengan uang yang berbunga.
Keluargaku berantakan. Keluargaku terpecah belah. Mama pergi. Ayah pergi. Aku disini. Adik-adikku disana. Kita semua berpisah. Kita yang dulu tinggal dibawah atap yang sama, kini berbeda ruang, berbeda rumah, berbeda kota. Kita terpisah oleh jarak dan waktu. Dan ini karena uang. Kita dulu senang karena uang dan kini sedih karena uang.
Roda kehidupan pasti berputar dan sayangnya, berhenti ditempat yang tidak kusukai. Aku kini berada dibawah. Terhimpit. Terinjak. Tergesek. Tertindih. Dan tak terlihat atau mungkin memang tak mau dilihat.
Kami yang dulu dicari orang untuk dimintai pertolongan masalah keuangan, kini tak mau lagi dicari orang karena hanya akan mendengar keluh kesah kami yang kekurangan uang setiap harinya.
Kami yang dulu disegani, didengarkan karena dianggap benar; mungkin karena punya uang jadi mereka mendekati kami dan membenarkan semua ucapan kami, kini seakan tak mau mendengar ucapan kami sekatapun.
Sebegitukah besarnya peranan uang dimuka bumi ini? Sebegitukah pentingnya uang dalam hidup ini? Apa hanya orang yang beruang yang dianggap? Apa kalian tidak ingat atau pura-pura lupa bahwa kami pun pernah beruang?
Ingin rasanya aku kembali ke masa lalu. Dimana aku akan memilih untuk tidak memiliki uang dari awalnya jika tau kalau sudah tak beruang akan sangat dikucilkan, dilupakan.
Diri yang telah terbiasa hidup mewah dan dilayani, kini harus mandiri dan dewasa secara paksa. Otakku harus berpikir ekstra. Nafsuku harus dijaga ketat. Dan hanya kalimat "aku sudah pernah seperti itu" yang aku ucapkan dalam hati, ketika iri melihat keluarga yang rukun sedang bercanda ria didalam mobil mewah mereka.
Waktu terus berputar hingga dewasa umurku pun datang. Aku harus berpikir untuk masa depanku dan masa sekarangku berserta keluargaku. Aku harus berpikir makan apa hari ini, besok, lusa dan hari berikutnya. Dan menjalaninya, tidak semudah saat aku berpikir.
Pergi pagi pulang malam untuk mencari dua gulung uang setiap bulannya yang akan habis dalam hitungan jam. Kemudian bergaul, mewarnai masa muda, dan belajar demi masa depan yang cerah. Kuharap, raga ini tak pernah lelah.
Kegilaan pada uang, sudah terselip didada. Ingin rasanya kubuang rasa itu, rasa ingin memiliki banyak uang. Namun, rasa itu kembali tinbul setiap orang kembali mengucilkan keluargaku. Menganggap kami selalu menyusahkan. Padahal kami pernah membantu dimasa dulu. Menganggap kami tak berguna, padahal kami pernah dielu-elukan dimasa dulu.
Aku hanya berharap semua kembali normal. Dengan adanya uang ataupun tidak adanya uang, aku ingin mereka tetap menganggap kami ada. Menganggap kami benar jika memang kami benar. Merangkul kami, bukan menganggap kami menyusahkan. Memeluk kami, bukan malah mendorong kami hingga semakin terpuruk dalam keadaan. Dan memang, duniaku telah dibuat gila karena uang.

Uang, aku membencimu. Dan aku memerlukanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar