Jemari tangannya terus berada diruang-ruang antar jemariku, seakan berkata bahwa ruang kosong itu ada untuk diisi oleh jemari tangannya. Tangannya masih menggenggam tanganku erat. Erat sekali, seakan tak ingin aku terlepas. Sesekali ia mengalihkan pandangan dari jalanan hanya untuk melihatku, seakan matanya terus mengawasiku agar aku tak pergi dan memastikan bahwa aku akan tetap disini, berada di sampingnya. Kanan, kiri, kanan dan kiri. Hingga langkah kaki kami pun seirama. Seperti menandakan bahwa kami memang diciptakan untuk bersama.
Aku hanya tersenyum memikirkan semua hal ini. Sedikit tawa terselip, membuat lelaki disampingku ini bertanya "apa ada yang lucu?". Pertanyaan itu membuat senyumanku semakin lebar.
"Tidak. Aku hanya bahagia." Jawabku dengan tersenyum, lagi. Tak bisa aku berhenti tersenyum malam ini. Rasanya sangat sangat bahagia. Ini memang bukan pertama kalinya aku merasakan bahagia seperti ini. Namun, rasanya masih sama dan tidak jauh berbeda. Hanya dengan orang yang berbeda.
Untuk rasa bahagia ini jatuh pertama kali sekitar 2 tahun yang lalu. Memang tangan kami tidak saling berpegangan. Memang langkah kaki kami tidak seirama. Memang saat itu aku telah jatuh hati padanya, dan aku belum tahu akan isi hatinya tentang aku. Namun, harapan itu muncul begitu seseorang berkata bahwa DIA mencariku karena aku tidak masuk sekolah selama seminggu karena sakit. Dan DIA mencariku karena dia perhatian dan suka padaku. Entah itu cuman sebuah candaan atau memang benar adanya. Tapi dari kalimat yang mungkin hanya candaan itu, muncullah sebuah harapan. Dan disanalah membuat aku merasa lebih hidup. Semangatku timbul.
"Aku sayang sama kamu, sayang banget. Kamu satu-satunya perempuan yang nerima aku apa adanya. Kamu terima kekurangan aku. Kamu melengkapi aku. Sepertinya, satu puzzle hilang dalam hidupku telah kutemukan dan menyempurnakan bagaimana seharusnya." Kata-kata indah itu terdengar langsung oleh hatiku. Semakin meningkatkan rasa bahagia ini.
"Aku juga sayang sama kamu."
Bintang-bintang bertaburan menghiasi langit malam. Menerangi jiwa yang sepi, memberikan cahayanya untuk sejuta harapan.
Malam akan terasa gelap tanpa bintang. Sama seperti aku yang rasanya rapuh tanpa dia, Bryan, pacar pertamaku. Baru saja kami bertemu 10 menit lalu, Bryan sudah mengirimkan pesan.
"Selamat malam, sayangku. Sleeptight, my girl" ucapan itu menghiasi ponselku tiap malam. Sama seperti dulu, 2 tahun yang lalu. Hanya saja berbeda orang, kata dan panggilan.
Dulu, 2 tahun yang lalu, setiap malamnya, pesan-pesan kaku masuk ke ponsel ku. Dan akan terasa beda jika semalam saja tidak ada pesan masuk darinya.
"Gadis, buat besok ada info apa?" Sebuah pesan masuk yang sama tiap malamnya, tapi aku tidak pernah bosan dan selalu menunggunya.
"Tugas 3D senibudaya dikumpul besok. Ulangan sejarah bab5." Dan hanya sebuah balasan singkat yang aku kirimkan.
"Okey, thanks. Good night." Dan dia akan selalu membalasnya dengan kata-kata itu. Setidaknya, setiap malam dia mengucapkan selamat tidur untukku. Itu sangat berarti.
"Selamat pagi, sayang." Ucapan pertama pagi hari ini yang kudengar, sama seperti hari-hari kemarin.
"Selamat pagi juga, sayang. Sorry ya lama nunggu. Tadi, aku agak kesiangan bangunnya." Jawabku sambil masuk ke dalam mobil setelah Bryan membukakan pintu untukku.
"No prob, my girl."
Bersama Bryan, aku merasa bagai seorang putri. Bryan menjagaku, melindungiku, dan menjadi sandaran saat aku lemah. Bryan tidak pernah membuatku marah ataupun kesal. Bryan selalu mengerti akan aku. Bryan selalu menjadi orang pertama di awal hari, dan orang terakhir di akhir hari. Bola mata Bryan pun menjadi yang pertama dan yang terakhir melihatku. Senyuman Bryan menjadi yang pertama dan terakhir menghiasi hari.
Tidak jauh berbeda dengan 2 tahun yang lalu. Hanya saja tidak ada panggilan sayang dan perhatian lebih.
"Pagi, Dis." Ucapan yang rutin setiap paginya terdengar oleh telingaku. Alasan pertama mengapa aku selalu datang lebih pagi ke sekolah setiap harinya.
"Pagi, Fan."
...........................................bellabehh......................................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar